| O2027 | O2030 |
![]() | ![]() |
| Jacket Codoray Wanita Dengan Bulu2 Di Leher | Jacket Polos 2 Saku Topi Leher Tali |
| Size : Lebar/panjang 43/58 cm | Size : Lebar/panjang 43/60cm |
| Harga : Rp 105.000,-/pc | Harga : Rp 60.000,-/pc |
Liliput di Antara Raksasa Dunia
Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Tapi di belantika sepakbola, "Merah Putih" seperti liliput di antara 10 negara lain yang ingin menggelar Piala Dunia 2018 atau 2022.
Sepakbola bolehlah diklaim sebagai olahraga nomor satu di Nusantara. Namun, fakta bahwa cabang yang satu ini juga tak kunjung memberikan prestasi yang diinginkan tentunya juga tak bisa disangkal.
Lihatlah Stadion Utama Gelora Bung Karno jika timnas Indonesia bertanding. Meski jarang untuk bisa benar-benar penuh, namun sorak sorai dukungan selalu terdengar dari ribuan fans setia. Sebuah potensi besar yang sayangnya lebih sering dibuat kecewa karena tak kunjung datangnya prestasi tersebut.
Maka saat tersiar kabar bahwa Indonesia mencalonkan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, beragam reaksi kemudian bermunculan. Ada yang mencibir, meski banyak juga yang menyatakan dukungan karena ini bisa menjadi momen buat (persepakbolaan) bangsa ini muncul ke permukaan dunia.
Setelah FIFA menutup batas waktu pendaftaran calon tuan rumah, situs berita Reuters memuat beragam data dan fakta dari 11 pelamar yang sudah mengajukan proposal. Dan kalau kemudian atribut liliput disematkan pada Indonesia, jawabannya ada di sini.
Reuters menyebut kalau Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai satu-satunya venue yang sudah memenuhi standar FIFA: mampu menampung setidaknya 80.000 penonton untuk laga final. Sementara untuk stadion-stadion lain, baik sarana maupun masalah keamanan, masih memerlukan banyak perbaikan sebelum bisa memenuhi kriteria yang ditentukan.
Tapi bukan berarti Indonesia tak punya poin plus dalam mimpinya menjadi tuan rumah Piala Dunia tersebut. Indonesia dianggap cocok dengan keinginan FIFA yang ingin menjadikan putaran final Piala Dunia sebagai "momentum perubahan positif" dan akan memberikan " keuntungan buat penduduk negara yang bersangkutan". Indonesia dianggap sebagai pilihan yang tepat menyusul jatuhnya rezim Soeharto. Jumlah penduduk yang mencapai 226 juta lebih juga dianggap sebagai peluang investasi untuk meningkatkan perekonomian dan citra.
Reuters juga menyoroti rangking Indonesia yang kini berada di posisi 144 dunia, atau terendah di antara negara lain yang mencalonkan diri. Banyaknya infrastruktur yang harus dibangun untuk bisa memenuhi apa yang diminta FIFA juga diyakini akan sulit diwujudkan, meski jika Indonesia kemudian terpilih untuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Kondisi yang sangat berseberangan akan kita lihat pada 10 negara lain yang ikut mencalonkan diri. Kalau boleh mengklaim, negara yang "paling dekat" dengan Indonesia terkait kesiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah Qatar dan Australia.
Qatar saat ini duduk di posisi 86 dunia (58 tingkat di atas Indonesia), mereka belum pernah menggelar dan menjadi kontestan di Piala Dunia. Sementara Australia, meski belum pernah jadi tuan rumah, mereka sudah dua kali lolos ke putaran final yakni tahun 1974 dan 2006.
Bagaimana dengan negara yang lain? Merekalah raksasa-raksasa yang sesungguhnya.
Belgia & Belanda kita tahu sempat sukses menjadi tuan rumah bersama Euro 2000. Meski sama-sama belum pernah jadi kampiun, keduanya sudah jadi langganan Piala Dunia.
Meski kini "memisahkan diri", Jepang dan Korea Selatan akan selalu dingat sebagai negara Asia pertama yang sukses menghelat hajatan sebesar Piala Dunia di 2002. Sementara dua negara di Benua Amerika, Meksiko dan Amerika Serikat sudah merasakan menjadi tuan rumah pada tahun 1972-1986 dan 1994. Inggris? Ini sih "nenek moyangnya" sepakbola.
Bersatunya Spanyol dan Portugal juga membuat mereka jadi salah satu kandidat kuat. Tahun 1982 Stadion Santiago Bernabeu menggelar laga putaran final antara Italia kontra Jerman Barat, sementara lima tahun lalu Portugal sukses dengan Piala Eropa 2004.
Niat Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022 mengundang banyak komentar. Menurut Vennard Hutabarat, sebaiknya Indonesia membenahi kompetisi dulu.
Seperti diberitakan sebelumnya, Indonesia telah mengirimkan proposal kepada FIFA untk bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia. Sekjen PSSI Nugraha Besoes mengungkapkan bahwa jika kesiapan Indonesia nantinya akan ditinjau ulang oleh FIFA.
Menegpora Adhyaksa Dault mendukung penuh usaha ini. Ia optimistis Indonesia akan mampu menjalankannya. Terbukti, menurutnya, di masa lalu Indonesia mampu menggelar event internasional seperti A1GP di Sirkuit Sentul dan Piala Asia 2007.
Namun, menurut Vennard, ada baiknya apabila kesiapan itu berbentuk pembenahan kompetisi di dalam negeri dahulu.
"Realistis aja deh. Sekarang gimana kita mau menjadi tuan rumah Piala Dunia sementara kompetisi kita sendiri saja belum beres," ujar presiden APPI (Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Indonesia) ini.
"Cobalah lihat stadion berapa yang bisa memenuhi kapasitas. Maka dari itu lebih baik kita benahi kompetisi dulu," tandasnya.
Menyoal stadion, sebelum ini Ashyaksa sudah menyatakan bahwa stadion-stadion di Indonesia akan siap untuk menjadi venue. Ia kemudian menyebutkan beberapa stadion yang sudah berdiri sesuai standar internasional, yakni Gelora Sriwijaya di Jakabaring, Sumatera Selatan, dan Stadion Palaran, yang tahun lalu dipakai untuk PON XVII di Samarinda.
Jadi, seberapa siap Si Liliput bertarung dengan raksasa-raksasa dunia? Bagaimana menurut Anda?
Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Tapi di belantika sepakbola, "Merah Putih" seperti liliput di antara 10 negara lain yang ingin menggelar Piala Dunia 2018 atau 2022.
Sepakbola bolehlah diklaim sebagai olahraga nomor satu di Nusantara. Namun, fakta bahwa cabang yang satu ini juga tak kunjung memberikan prestasi yang diinginkan tentunya juga tak bisa disangkal.
Lihatlah Stadion Utama Gelora Bung Karno jika timnas Indonesia bertanding. Meski jarang untuk bisa benar-benar penuh, namun sorak sorai dukungan selalu terdengar dari ribuan fans setia. Sebuah potensi besar yang sayangnya lebih sering dibuat kecewa karena tak kunjung datangnya prestasi tersebut.
Maka saat tersiar kabar bahwa Indonesia mencalonkan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, beragam reaksi kemudian bermunculan. Ada yang mencibir, meski banyak juga yang menyatakan dukungan karena ini bisa menjadi momen buat (persepakbolaan) bangsa ini muncul ke permukaan dunia.
Setelah FIFA menutup batas waktu pendaftaran calon tuan rumah, situs berita Reuters memuat beragam data dan fakta dari 11 pelamar yang sudah mengajukan proposal. Dan kalau kemudian atribut liliput disematkan pada Indonesia, jawabannya ada di sini.
Reuters menyebut kalau Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai satu-satunya venue yang sudah memenuhi standar FIFA: mampu menampung setidaknya 80.000 penonton untuk laga final. Sementara untuk stadion-stadion lain, baik sarana maupun masalah keamanan, masih memerlukan banyak perbaikan sebelum bisa memenuhi kriteria yang ditentukan.
Tapi bukan berarti Indonesia tak punya poin plus dalam mimpinya menjadi tuan rumah Piala Dunia tersebut. Indonesia dianggap cocok dengan keinginan FIFA yang ingin menjadikan putaran final Piala Dunia sebagai "momentum perubahan positif" dan akan memberikan " keuntungan buat penduduk negara yang bersangkutan". Indonesia dianggap sebagai pilihan yang tepat menyusul jatuhnya rezim Soeharto. Jumlah penduduk yang mencapai 226 juta lebih juga dianggap sebagai peluang investasi untuk meningkatkan perekonomian dan citra.
Reuters juga menyoroti rangking Indonesia yang kini berada di posisi 144 dunia, atau terendah di antara negara lain yang mencalonkan diri. Banyaknya infrastruktur yang harus dibangun untuk bisa memenuhi apa yang diminta FIFA juga diyakini akan sulit diwujudkan, meski jika Indonesia kemudian terpilih untuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Kondisi yang sangat berseberangan akan kita lihat pada 10 negara lain yang ikut mencalonkan diri. Kalau boleh mengklaim, negara yang "paling dekat" dengan Indonesia terkait kesiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah Qatar dan Australia.
Qatar saat ini duduk di posisi 86 dunia (58 tingkat di atas Indonesia), mereka belum pernah menggelar dan menjadi kontestan di Piala Dunia. Sementara Australia, meski belum pernah jadi tuan rumah, mereka sudah dua kali lolos ke putaran final yakni tahun 1974 dan 2006.
Bagaimana dengan negara yang lain? Merekalah raksasa-raksasa yang sesungguhnya.
Belgia & Belanda kita tahu sempat sukses menjadi tuan rumah bersama Euro 2000. Meski sama-sama belum pernah jadi kampiun, keduanya sudah jadi langganan Piala Dunia.
Meski kini "memisahkan diri", Jepang dan Korea Selatan akan selalu dingat sebagai negara Asia pertama yang sukses menghelat hajatan sebesar Piala Dunia di 2002. Sementara dua negara di Benua Amerika, Meksiko dan Amerika Serikat sudah merasakan menjadi tuan rumah pada tahun 1972-1986 dan 1994. Inggris? Ini sih "nenek moyangnya" sepakbola.
Bersatunya Spanyol dan Portugal juga membuat mereka jadi salah satu kandidat kuat. Tahun 1982 Stadion Santiago Bernabeu menggelar laga putaran final antara Italia kontra Jerman Barat, sementara lima tahun lalu Portugal sukses dengan Piala Eropa 2004.
Niat Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022 mengundang banyak komentar. Menurut Vennard Hutabarat, sebaiknya Indonesia membenahi kompetisi dulu.
Seperti diberitakan sebelumnya, Indonesia telah mengirimkan proposal kepada FIFA untk bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia. Sekjen PSSI Nugraha Besoes mengungkapkan bahwa jika kesiapan Indonesia nantinya akan ditinjau ulang oleh FIFA.
Menegpora Adhyaksa Dault mendukung penuh usaha ini. Ia optimistis Indonesia akan mampu menjalankannya. Terbukti, menurutnya, di masa lalu Indonesia mampu menggelar event internasional seperti A1GP di Sirkuit Sentul dan Piala Asia 2007.
Namun, menurut Vennard, ada baiknya apabila kesiapan itu berbentuk pembenahan kompetisi di dalam negeri dahulu.
"Realistis aja deh. Sekarang gimana kita mau menjadi tuan rumah Piala Dunia sementara kompetisi kita sendiri saja belum beres," ujar presiden APPI (Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Indonesia) ini.
"Cobalah lihat stadion berapa yang bisa memenuhi kapasitas. Maka dari itu lebih baik kita benahi kompetisi dulu," tandasnya.
Menyoal stadion, sebelum ini Ashyaksa sudah menyatakan bahwa stadion-stadion di Indonesia akan siap untuk menjadi venue. Ia kemudian menyebutkan beberapa stadion yang sudah berdiri sesuai standar internasional, yakni Gelora Sriwijaya di Jakabaring, Sumatera Selatan, dan Stadion Palaran, yang tahun lalu dipakai untuk PON XVII di Samarinda.
Jadi, seberapa siap Si Liliput bertarung dengan raksasa-raksasa dunia? Bagaimana menurut Anda?
Sumber : detik.com
Bukan hanya krisis ekonomi global yang mengancam di tahun 2009. Pertengahan tahun Kerbau Tanah ini diramal bakal terjadi kekacauan yang dipicu oleh pergolakan politik. Inilah prediksi Indonesia tahun 2009 versi Mama Lauren.RAMALAN MAMA LAUREN:
POLITIK
- Terjadi pergolakan politik besar-besaran
- Dua politisi kawakan tewas terbunuh akibat akumulasi persaingan.
EKONOMI
- Banyak cobaan di sisi properti, pertambangan, perkebunan, penerbangan , perkapalan, dan perminyakan.
- Banyak perusahaan yang gulung tikar dan memPHK karyawannya
- Investor di bisnis properti sebaiknya lebih bersabar
- Bursa saham akan ditutup di beberapa negara termasuk Indonesia.
- Harga sandang dan pangan juga melonjak naik.
ENTERTAINMENT
- Wabah kawin cerai masih tetap marak.
- Tapi ada dua pasangan yang sudah bercerai akan rujuk kembali.
- Indonesia juga akan kehilangan tujuh bintang terkenal, yakni empat laki-laki dan tiga perempuan. Dua laki-laki dan satu perempuan di antaranya meninggal karena narkoba, dan empat orang lainnya karena sakit.
BENCANA
- Curah hujan terbesar akan terjadi pada Desember 2008 hingga Januari 2009.
- Musim pancaroba akan terjadi pada April dan Mei serta Oktober-November.
- Saat pancaroba ini, bisa terjadi badai dan petir.
- Gempa bumi juga terjadi di sejumlah wilayah yang akan memakan banyak korban jiwa dan materi.
- Juga akan terjadi gunung meletus.
- Waspadai kecelakaan pesawat terbang, kereta api, bus, dan kapal laut.
- Bencana banjir di DKI Jakarta juga tak bisa dielakkan.
- Banjir dan tanah longsor akan terjadi di daerah Jawa Barat.
- Gempa dan tanah longsor juga masih mengintai Sumatera Barat, Tapanuli bagian barat, dan Aceh bagian Barat. Sedangkan air laut yang pasang akan mengalir menuju sungai-sungai di Kalimantan.
kawasan 7 ulu yang dahulu orang tidak kenal dimana wilayahnya , sekarang kawasan itu disulap menjadi kawasan wisata guna menunjang program pemerintah VISIT MUSI 2008 dan wilayah itu menjadi perbincangan hangat para penduduk palembang membuat aku menjadi bangga karena wilayah yang diperbincangkan orang - orang sekarang merupakan tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan . berikut sejarah tentang kampung ku Kampoeng Kapitan . Sejak zaman Sriwijaya, Sungai Musi telah menjadi urat nadi pertumbuhan Kota Palembang dan sekitarnya di Sumatera Selatan. Semua bangunan
dari beberapa peradaban tumbuh dan hilang di sisi kanan-kiri sungai ini. Namun jika menyusurinya, kita masih akan menemukan banyak bangunan indah yang menyimpan beribu penggalan sejarah Palembang, seperti Kampung Kapitan.Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Kampung itu, pada awalnya, merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China berpangkat kapitan (sekarang disebut kapten) yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.Pada masa itu, seorang kapitan bertugas untuk memungut pajak dari masyarakat China dan masyarakat pribumi yang berada di wilayah Seberang Ulu Palembang. Kapitan juga bertugas untuk menjaga keamanan wilayah dan mengatur tata niaga candu di wilayah terbatas.Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di tengah merupakan rumah yang lebih sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan pertemuan-pertemuan dengan banyak orang. Sementara kedua rumah di sisi timur dan barat lebih banyak difungsikan sebagai rumah tinggal.Keluarga besarRumah-rumah lain dibangun oleh kapitan untuk menampung keluarga besarnya. Rumah-rumah itu membentuk persegi panjang, dengan sebuah ruang terbuka di tengahnya. Ruang terbuka dahulu kala dibentuk menjadi taman yang indah, tetapi kini dibiarkan ditumbuhi rumput dan tidak terawat.Dari arah darat hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan, yang berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang.Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV. Saat itu, Dinasti Ming membatasi jumlah pedagang China yang akan berdagang ke arah selatan (Kepulauan Nusantara), dengan membentuk semacam lembaga dagang negara.Lembaga dagang itu menjadikan Palembang sebagai salah satu basis dagang yang besar. Sebagai kota perniagaan, banyak orang China yang datang dan menetap di Palembang. Sebagian dari mereka berinteraksi dan menikah dengan gadis Palembang yang beragama Islam.Salah satu kepala kantor dagang China yang terkenal saat itu, kata Djohan, adalah Liang Taow Ming. Liang mampu
mengikat persatuan yang kuat antarmasyarakat China sehingga mereka menjadi komunitas yang kuat dan cukup diperhitungkan Pemerintah Kolonial Belanda.Ketika kekuasaan kolonial menjadi lebih kuat atas Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda mulai mengangkat perwira China untuk mengatur wilayah 7 Ulu dan sekitarnya. Perwira tersebut semula bertugas mengatur komunitas China saja. Akan tetapi, seiring makin kuatnya Belanda, perwira China juga mulai memegang kendali atas masyarakat pribumi.Menurut Tjoa Kok Lim alias Kohar (72), cucu kapitan terakhir, Tjoa Ham Hin, dua perwira China pertama berpangkat mayor. Mereka dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Mayor Putih. Nama asli keduanya sulit untuk dilacak kembali, tetapi mereka berasal dari marga Tjoa.Kepangkatan dan wewenang itu diwariskan kepada keturunan berikutnya, tetapi pangkatnya turun menjadi kapitan. Tiga rumah inti dan perkampungan itu diwariskan kepada pemegang pangkat kapitan secara turun-temurun sehingga kampung itu disebut Kampung Kapitan.Di Kampung Kapitan terdapat satu klenteng yang besar, sebagai pusat peribadatan masyarakat keturunan China di kawasan Seberang Ulu. Namun, klenteng itu terbakar habis dan kemudian dibangun ulang di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, lima tahun sebelum pembangunan Masjid Agung Palembang selesai.Interaksi sosialMuhammad Saleh alias Ujang (74), tetua di Kampung Kapitan, menuturkan, interaksi antara masyarakat keturunan China dan masyarakat pribumi berlangsung dengan baik. Banyak warga keturunan China, terutama dari keluarga besar kapitan, yang menikah dengan pribumi.Dalam melaksanakan tugasnya untuk menarik pajak dan menjaga keamanan, kapitan juga bekerja sama dengan para demang (setingkat lurah) yang merupakan penduduk pribumi. Mayoritas pegawai kapitan juga berasal dari masyarakat pribumi dan mereka membangun rumah kecil yang menempel di sisi rumah utama.Meskipun hubungan kapitan dan pegawainya adalah atasan dan bawahan, kata Ujang, Kapitan Tjoa Ham Hin sering berlaku seperti tetangga kepada para pegawainya. Mereka saling membantu. Kerukunan antara masyarakat pribumi dan keluarga kapitan terlihat dalam berbagai upacara hari besar keagamaan.Berdasarkan pengalamannya semasa kecil dan penuturan orangtuanya, kata Ujang, kapitan Tjoa Ham Hin pernah mengadakan pesta untuk merayakan peringatan hari besar seperti Idul Fitri dan peringatan hari raya masyarakat China. Pesta yang diselenggarakan di rumah bagian tengah itu menggunakan alat musik campuran, antara alat musik Eropa, China, dan Palembang.Dalam pesta itu, peralatan makan dan memasak yang digunakan untuk orang keturunan China dan pribumi dibedakan. Pembedaan dilakukan karena banyak masakan China yang mengandung daging babi dan arak, jenis makanan dan minuman yang diharamkan masyarakat Muslim.Masa kiniKini, keanggunan Kampung Kapitan sudah nyaris hilang.
Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu juga tampak kusam dimakan usia. Namun, dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang mampu bertahan selama ratusan tahun.Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang yang dihiasi patung beberapa dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China, yang dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang.Menurut Tjoa Kok Lim, Kampung Kapitan menjadi tidak terurus dengan baik setelah ditinggalkan para keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga sudah dikuasai para penghuninya, dan tidak lagi dalam kepemilikan keluarga kapitan Tjoa Ham Hin.Tjoa Kok Lim mengatakan, mereka tidak akan menjual dua rumah yang tersisa karena ayahnya, Tjoa Hendrik, pernah berpesan agar kedua rumah itu tidak jatuh ke orang lain. Kok Lim mengharapkan, jika dia dipanggil Tuhan, kelak Pemerintah Kota Palembang menata ulang kampung itu menjadi kawasan wisata sejarah.
dari beberapa peradaban tumbuh dan hilang di sisi kanan-kiri sungai ini. Namun jika menyusurinya, kita masih akan menemukan banyak bangunan indah yang menyimpan beribu penggalan sejarah Palembang, seperti Kampung Kapitan.Kampung Kapitan merupakan kelompok 15 bangunan rumah panggung ala China yang terletak di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Kampung itu, pada awalnya, merupakan tempat tinggal seorang perwira keturunan China berpangkat kapitan (sekarang disebut kapten) yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.Pada masa itu, seorang kapitan bertugas untuk memungut pajak dari masyarakat China dan masyarakat pribumi yang berada di wilayah Seberang Ulu Palembang. Kapitan juga bertugas untuk menjaga keamanan wilayah dan mengatur tata niaga candu di wilayah terbatas.Bangunan inti di Kampung Kapitan terdiri atas tiga rumah, merupakan bangunan yang paling besar dan menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di tengah merupakan rumah yang lebih sering difungsikan untuk menyelenggarakan pesta dan pertemuan-pertemuan dengan banyak orang. Sementara kedua rumah di sisi timur dan barat lebih banyak difungsikan sebagai rumah tinggal.Keluarga besarRumah-rumah lain dibangun oleh kapitan untuk menampung keluarga besarnya. Rumah-rumah itu membentuk persegi panjang, dengan sebuah ruang terbuka di tengahnya. Ruang terbuka dahulu kala dibentuk menjadi taman yang indah, tetapi kini dibiarkan ditumbuhi rumput dan tidak terawat.Dari arah darat hanya ada satu jalan masuk ke Kampung Kapitan, yang berjarak sekitar 800 meter dari bawah Jembatan Ampera. Di jalan masuk terdapat dua gerbang yang daun pintunya hilang.Menurut budayawan dan sejarawan Palembang, Djohan Hanafiah, munculnya Kampung Kapitan berkaitan dengan runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming di China pada abad XIV. Saat itu, Dinasti Ming membatasi jumlah pedagang China yang akan berdagang ke arah selatan (Kepulauan Nusantara), dengan membentuk semacam lembaga dagang negara.Lembaga dagang itu menjadikan Palembang sebagai salah satu basis dagang yang besar. Sebagai kota perniagaan, banyak orang China yang datang dan menetap di Palembang. Sebagian dari mereka berinteraksi dan menikah dengan gadis Palembang yang beragama Islam.Salah satu kepala kantor dagang China yang terkenal saat itu, kata Djohan, adalah Liang Taow Ming. Liang mampu
mengikat persatuan yang kuat antarmasyarakat China sehingga mereka menjadi komunitas yang kuat dan cukup diperhitungkan Pemerintah Kolonial Belanda.Ketika kekuasaan kolonial menjadi lebih kuat atas Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda mulai mengangkat perwira China untuk mengatur wilayah 7 Ulu dan sekitarnya. Perwira tersebut semula bertugas mengatur komunitas China saja. Akan tetapi, seiring makin kuatnya Belanda, perwira China juga mulai memegang kendali atas masyarakat pribumi.Menurut Tjoa Kok Lim alias Kohar (72), cucu kapitan terakhir, Tjoa Ham Hin, dua perwira China pertama berpangkat mayor. Mereka dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Mayor Putih. Nama asli keduanya sulit untuk dilacak kembali, tetapi mereka berasal dari marga Tjoa.Kepangkatan dan wewenang itu diwariskan kepada keturunan berikutnya, tetapi pangkatnya turun menjadi kapitan. Tiga rumah inti dan perkampungan itu diwariskan kepada pemegang pangkat kapitan secara turun-temurun sehingga kampung itu disebut Kampung Kapitan.Di Kampung Kapitan terdapat satu klenteng yang besar, sebagai pusat peribadatan masyarakat keturunan China di kawasan Seberang Ulu. Namun, klenteng itu terbakar habis dan kemudian dibangun ulang di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, lima tahun sebelum pembangunan Masjid Agung Palembang selesai.Interaksi sosialMuhammad Saleh alias Ujang (74), tetua di Kampung Kapitan, menuturkan, interaksi antara masyarakat keturunan China dan masyarakat pribumi berlangsung dengan baik. Banyak warga keturunan China, terutama dari keluarga besar kapitan, yang menikah dengan pribumi.Dalam melaksanakan tugasnya untuk menarik pajak dan menjaga keamanan, kapitan juga bekerja sama dengan para demang (setingkat lurah) yang merupakan penduduk pribumi. Mayoritas pegawai kapitan juga berasal dari masyarakat pribumi dan mereka membangun rumah kecil yang menempel di sisi rumah utama.Meskipun hubungan kapitan dan pegawainya adalah atasan dan bawahan, kata Ujang, Kapitan Tjoa Ham Hin sering berlaku seperti tetangga kepada para pegawainya. Mereka saling membantu. Kerukunan antara masyarakat pribumi dan keluarga kapitan terlihat dalam berbagai upacara hari besar keagamaan.Berdasarkan pengalamannya semasa kecil dan penuturan orangtuanya, kata Ujang, kapitan Tjoa Ham Hin pernah mengadakan pesta untuk merayakan peringatan hari besar seperti Idul Fitri dan peringatan hari raya masyarakat China. Pesta yang diselenggarakan di rumah bagian tengah itu menggunakan alat musik campuran, antara alat musik Eropa, China, dan Palembang.Dalam pesta itu, peralatan makan dan memasak yang digunakan untuk orang keturunan China dan pribumi dibedakan. Pembedaan dilakukan karena banyak masakan China yang mengandung daging babi dan arak, jenis makanan dan minuman yang diharamkan masyarakat Muslim.Masa kiniKini, keanggunan Kampung Kapitan sudah nyaris hilang.
Hanya bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, meskipun banyak kerusakan kecil di berbagai sudut.Selain itu, bagian bangunan yang terbuat dari kayu juga tampak kusam dimakan usia. Namun, dinding kayu tidak rusak karena terbuat dari kayu unglen yang mampu bertahan selama ratusan tahun.Di dalam rumah, meja abu dan altar sembahyang yang dihiasi patung beberapa dewa, juga terlihat berdebu dan dikotori sarang laba-laba. Hampir tidak ada lagi meja kursi atau lemari yang dapat menggambarkan situasi masa lalu. Hanya ada beberapa foto kapitan masih terpampang di ruang tamu rumah sebelah timur.Taman bagian tengah kampung juga sudah berubah menjadi tanah lapang yang tidak terurus. Dua patung singa, lambang rumah perwira China, yang dulu pernah menghiasi bagian depan rumah inti juga hilang.Menurut Tjoa Kok Lim, Kampung Kapitan menjadi tidak terurus dengan baik setelah ditinggalkan para keturunan kapitan. Tjoa Kok Lim menjaga rumah itu karena keempat saudara perempuannya mengikuti suami mereka ke luar Palembang.Pudarnya ketenaran Kampung Kapitan juga membuat anak-anak Tjoa Kok Lim memilih bekerja di Jakarta dan Lampung. Ia kini hanya ditemani seorang anak perempuan untuk menjaga kedua rumah inti, setelah rumah ketiga dijual kepada orang lain. Rumah-rumah kecil di Kampung Kapitan juga sudah dikuasai para penghuninya, dan tidak lagi dalam kepemilikan keluarga kapitan Tjoa Ham Hin.Tjoa Kok Lim mengatakan, mereka tidak akan menjual dua rumah yang tersisa karena ayahnya, Tjoa Hendrik, pernah berpesan agar kedua rumah itu tidak jatuh ke orang lain. Kok Lim mengharapkan, jika dia dipanggil Tuhan, kelak Pemerintah Kota Palembang menata ulang kampung itu menjadi kawasan wisata sejarah.Sumber: Kompas, Senin, 10 Oktober 2005
Pengertian yang mendekati kenyataan adalah apa yang diterjemahkan oleh R.J.Wilkinson dalam kamusnya A Malay English Dictionary (Singapore, 1903): lembang adalah tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air.Menurut Kamus Dewan: lembah, tanah lekuk, tanah yang rendah, untuk arti lain dari lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak. Sedangkan menurut bahasa Melayu ¬Palembang, lembang berarti air yang merembes atau rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.Menurut Sevenhoven2 Palembang berarti tempat tanah yang dihanyutkan ke tepi, sedangkan Stuerler3 menerjemahkannya sebagai tanah yang terdampar.Pengertian Palembang tersebut kesemuanya menunjukkan tanah yang berair. lni tidak jauh dari kenyataan yang ada, bahkan pada saat sekarang, yang dibuktikan oleh data statistik tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang.Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehidupan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggalah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya.Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos. Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.Nama Palembang “lahir” tepatnya belum dapat diperkirakan. Apakah nama ini lahir sejak Sriwijaya runtuh atau sebaliknya nama Palembang lahir lebih dahulu sebelum nama Sriwijaya “lahir”. Dari sumber Cina, yaitu kronik Chu-fan-chi, karya Chau Ju-kua tahun 1225, disebutkan nama Pa-lin-fong (Palembang), adalah salah satu bawahan San-fo-tsi. Sedangkan yang dimaksudkan dengan San-fo-tsi menurut kronik Ling-wai-tai-ta karya Chau Ku-fei tahun 1178 adalah kerajaan Chan-pi (Jambi).Wang Ta-yuan dalam catatan perjalanannya Tao-i chih-lio (1349-1350), membedakan antara San-fo-tsi dengan Ku-kang (Kiu-Kiang), yaitu dua buah nama dan tempat yang berbeda. Menurut Ma-huan dalam Ying-yai-Sheng-lan ditulis tahun 1416, menyatakan bahwa Ku-kang adalah negeri yang dahulunya disebut San-fo-tsi (San-bo-tsai).Dari kronik-kronik Cina, sebagian mengatakan bahwa pe¬ngertian San-fo-tsi dapat berarti Palembang dan juga Jambi. J.L.Moens mempertegas bahwa yang disebut kerajaan San-fo-tsi bukan hanya satu kerajaan saja, dia menyarankan bahwa ahli sejarah harus membedakan “San-fo-tsi Palembang” dan “San-fo¬tsi Melayu”. Sayangnya J.L. Moens tidak tuntas menyelesaikannya.Banyak penulis sejarah berpendapat kekeliruan penulisan Cina karena San-fo-tsi (Suarnabhumi atau Pulau Emas) dengan hanya menyebutkan nama pulaunya saja, tidak mendetil dengan nama-nama kerajaan di bagian pulau tersebut.O.W.Wolters mengungkap keadaan ini untuk memperjelas dengan mengambil pendapat Satyawati Sulaiman, dan memperbaiki pernyataan Cina pada paruh kedua abad ke-14, bahwa didalam pengertian San-fo-tsi adanya tiga raja-raja, salah satunya raja Palembang. Sedangkan dua raja yang lain, dia menyarankan penguasa Jambi dan kerajaan Melayu di pedalaman, yang oleh Kartanegara sebagai bawahannya pada paruh kedua abad ke¬-13, yang diperintah oleh Adityawarman beberapa tahun pada abad ke-14.Palembang sekarang, sebelum nama “Palembang” tampaknya beberapa kali berubah nama sepanjang sejarahnya. Waktu ia menjadi ibukota San-Fo-Tsi, maka ia bernama Swarna Bhumi yaitu sama dengan nama negaranya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yin-Yai-Sheng-Lan karya Ma-Huan yaitu San-Fo-Tsi (Swarna Bhumi) adalah nama ibukota kerajaan San-Fo-Tsi. Antara kata Swarnabhumi dan Palembang terdapat pengertian yang mengandung identitas yang sama yaitu emas.Swarnabhumi berarti bumi emas, sedangkan Palembang menurut cerita rakyat berasal dari kata pelimbangan emas, yaitu tempat menyaring dan mencuci emas dari bumi (pasir). Dengan adanya pertautan pengertian antara Swarnabhumi dengan Palembang maka cerita rakyat tentang asal nama Palembang tampak ada juga benarnya. Dari hasil analisa ini maka Palembang sekarang sepanjang sejarahnya menurut data yang ada mengalami lima kali periode yang berbeda baik kedudukannya maupun namanya.Pertama ia bernama Mukha Upang, menurut prasasti Kedukan Bukit hal ini terjadi dalam periode Sriwijaya pemula (Shih-Li-Fo-Shih) ditahun 605 saka atau 683 M. Pada saat itu kedudukannya adalah sebagai negara lokal yang berada di bawah Sriwijaya pemula dengan berpusat di Minanga – Komering Ulu.Kedua, ia bernama Swarnabhumi menjadi ibukota San-Fo-Tsi I (Swarnabhumi = Sriwijaya Lanjutan I). Kedudukan ini dipegangnya mulai tahun 860 M sampai tahun ± 1097 M, dengan penguasa berwangsa Sailendra.Ketiga, ia bernama Fo-Lin-Pong sesudah ia menjadi salah satu negeri bawahan San-Fo-Tsi atau dengan kata lain sesudah San-Fo-Tsi pindah ibukota.Keempat, ia bernama Palembang, dan juga sebagai nama kerajaan seperti yang disampaikan oleh berita Cina dinasti Ming, sesudah pecahnya San-Fo-Tsi menjadi 3 bagian. Di tahun 1374 telah datang utusan Mahana Palembang ke Tionghoa, sebagai salah satu kerajaan pecahan dari San-Fo-Tsi.Kelima, ia bernama Chiu-Chiang atau pelabuhan lama seperi yang dicatat dalam kroniknya Dinasti Ming sesudah ia ditundukkan oleh Jawa.
Kota Palembang memiliki sejarah yang panjang, mulai dari kejayaan kerajaan Sriwijaya sampai Kesultanan
Palembang Darussalam. Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya sekitar tahun 683 Masehi menjadi cikal bakal kota yang terletak di tepian sungai Musi ini. Banyak peninggalan tak ternilai berasal dari kerajaan terkenal itu, salah satunya adalah budaya wastra (kain) yang indah yaitu songket.Gemerlap dan kilauan emas yang terpancar pada kain tenun ini, memberikan nilai tersendiri. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam lewat pola simetris membuat kain ini dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain.Songket tradisional ini dibuat dengan ketrampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain. Kemampuan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun.Sewet Songket atau kain Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemban atau selendang.Bahan sewet songket ini ditenun secara teliti dengan mengunakan bahan benang sutera. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lainOleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan halus dan seni yang tinggi maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan.Pakaian songke lengkap yang dikenakan oleh pengaten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran) Aesan Pengganggon (Paksangko) Aesan. Selendang Mantri Aesan Gandek (Gandik) dan sebagainya.Sehelai kain tenun songket dari Palembang, mempunyai banyak makna, dan mempunyai nilai sejarah. Kain ini mungkin sebagai peninggalan nenek moyang si pemilik yang ditenun selama
satu tahun, mungkin sebagai mahar, mungkin sebagai busana kebesaran adat pengantin , mungkin sebagai benda koleksi keluarga yang berharga, dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.Seperti seni tenun daerah lainnya di nusantara kita, kain songket Palembang ini tidak diketahui persis kapan mulai dikerjakan. Untuk keperluan busana, mula-mula digunakan sebagai bahan dasar kulit kayu, kemudian rajutan daun-daun, dan yang terakhir ditanam kapas untuk dibuat benang sebagai bahan dasar kain tenun.Palembang yang terletak di pulau Sumatra bagian Selatan ini dahulu menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang menjadi pintu masuk berbagai budaya dari manca negara. Mula-mula datang bangsa Portugis, kemudian bangsa India yang terakhir bangsa Cina. Pada abad ketujuh sampai abad kesebelas Masehi kerajaan Sriwijaya sedang jaya - jayanya dengan pelabuhannya yang ramai. Kecuali menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Budha. Pusat kerajaan Sriwijaya, sekarang kota Palembang, merupakan tempat persinggahan pendeta dari Srilangka dan India yang akan pergi ke Cina. Itulah sebabnya budaya India ikut mempengaruhi motif hias kain songket Palembang.Disamping itu pengaruh dari Cina juga melekat pada seni tenun Palembang terutama pada penerapan warna merah dan warna keemasan pada kain songket.Karena adanya pengaruh budaya dari luar tadi terciptalah kain tenun dari Sriwijaya yang sangat indah dan bervariasi. Dengan demikian kain songket ini termasuk hasil budaya daerah yang harus dilestarikan.
Palembang Darussalam. Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya sekitar tahun 683 Masehi menjadi cikal bakal kota yang terletak di tepian sungai Musi ini. Banyak peninggalan tak ternilai berasal dari kerajaan terkenal itu, salah satunya adalah budaya wastra (kain) yang indah yaitu songket.Gemerlap dan kilauan emas yang terpancar pada kain tenun ini, memberikan nilai tersendiri. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam lewat pola simetris membuat kain ini dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain.Songket tradisional ini dibuat dengan ketrampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, serta yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain. Kemampuan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun.Sewet Songket atau kain Songket adalah kain yang biasanya dipakai atau dikenakan sebagai pembalut bagian bawah pakaian wanita. Biasanya sewet ini berteman dengan kemban atau selendang.Bahan sewet songket ini ditenun secara teliti dengan mengunakan bahan benang sutera. Ciri khas songket Palembang terletak pada kehalusan dan keanggunannya sangat menonjol serta motifnya tidak sama dengan motif kain songket daerah lainOleh karena itu sewet songket ini dibuat dengan bahan halus dan seni yang tinggi maka harganya cukup mahal. Biasanya dipakai pada waktu tertentu pada saat perayaan perkawinan.Pakaian songke lengkap yang dikenakan oleh pengaten, biasanya dengan Aesan Gede (kebesaran) Aesan Pengganggon (Paksangko) Aesan. Selendang Mantri Aesan Gandek (Gandik) dan sebagainya.Sehelai kain tenun songket dari Palembang, mempunyai banyak makna, dan mempunyai nilai sejarah. Kain ini mungkin sebagai peninggalan nenek moyang si pemilik yang ditenun selama
satu tahun, mungkin sebagai mahar, mungkin sebagai busana kebesaran adat pengantin , mungkin sebagai benda koleksi keluarga yang berharga, dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain.Kain tenun songket Palembang ini, sangat menarik, ditelusuri sejarahnya, maknanya, dan teknik pembuatannya. Kalau kita menilik warnanya yang khas, dan motif hiasnya yang indah, pastilah kita berkesimpulan bahwa songket ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran,dan daya kreasi yang tinggi.Seperti seni tenun daerah lainnya di nusantara kita, kain songket Palembang ini tidak diketahui persis kapan mulai dikerjakan. Untuk keperluan busana, mula-mula digunakan sebagai bahan dasar kulit kayu, kemudian rajutan daun-daun, dan yang terakhir ditanam kapas untuk dibuat benang sebagai bahan dasar kain tenun.Palembang yang terletak di pulau Sumatra bagian Selatan ini dahulu menjadi pusat kerajaan Sriwijaya yang menjadi pintu masuk berbagai budaya dari manca negara. Mula-mula datang bangsa Portugis, kemudian bangsa India yang terakhir bangsa Cina. Pada abad ketujuh sampai abad kesebelas Masehi kerajaan Sriwijaya sedang jaya - jayanya dengan pelabuhannya yang ramai. Kecuali menjadi pusat perdagangan, Sriwijaya juga menjadi pusat agama Budha. Pusat kerajaan Sriwijaya, sekarang kota Palembang, merupakan tempat persinggahan pendeta dari Srilangka dan India yang akan pergi ke Cina. Itulah sebabnya budaya India ikut mempengaruhi motif hias kain songket Palembang.Disamping itu pengaruh dari Cina juga melekat pada seni tenun Palembang terutama pada penerapan warna merah dan warna keemasan pada kain songket.Karena adanya pengaruh budaya dari luar tadi terciptalah kain tenun dari Sriwijaya yang sangat indah dan bervariasi. Dengan demikian kain songket ini termasuk hasil budaya daerah yang harus dilestarikan.Sejarah mengenai Kesultanan Palembang dapat dimulai pada pertengahan abad ke-15 pada masa hidupnya seorang tokoh bernama Ario Dillah atau Ario Damar. Beliau adalah seorang putera dari raja Majapahit yang terakhir, yang mewakili kerajaan Majapahit bergelar Adipati Ario Damar yang berkuasa antara tahun 1455-1486 di Palembang Lamo, yang sekarang ini letaknya di kawasan 1 ilir. Pada saat kedatangan Ario Damar ke Palembang, penduduk dan rakyat Palembang sudah banyak yang memeluk agama Islam dan Adipati Ario Damar pun mungkin kemudian memeluk agama Islam, konon namanya berubah menjadi Ario Abdillah atau Ario Dillah (Dalam bahasa Jawa damar =
dillah = lampu).Ario Dillah mendapat hadiah dari Raja Majapahit terakhir Prabu Kertabumi Brawijaya V salah seorang isterinya keturunan Cina (kadang-kadang disebut juga Puteri Champa) yang telah memeluk Islam dan dibuatkan istana untuk Puteri. Pada saat putri ini diboyong ke Palembang ia sedang mengandung, kemudian lahir anaknya yang bernama Raden Fatah. Menurut cerita tutur yang ada di Palembang, Raden Fatah ini lahir di istana Ario Dillah di kawasan Palembang lama (1 ilir), tempat itu dahulu dinamakan Candi ing Laras, yaitu sekarang terletak di antara PUSRI I dan PUSRI II. Raden Fatah dipelihara dan dididik oleh Ario Dillah menurut agama Islam dan menjadi seorang ulama Islam. Sementara itu hasil perkawinan Ario Dillah dengan putri Cina tersebut, lahir Raden Kusen yaitu adik Raden Fatah lain bapak.Setelah kerajaan Majapahit bubar karena desakan kerajaan-kerajaan Islam, Sunan Ngampel, sebagai wakil Walisongo, mengangkat Raden Fatah menjadi penguasa Seluruh Jawa, menggantikan ayahnya. Pusat kerajaan Jawa dipindahkan ke Demak. Atas bantuan dari daerah-daerah lainnya yang sudah lepas dari Majapahit seperti Jepara, Tuban, Gresik, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam dengan Demak sebagai pusatnya (kira-kira tahun 1481). Raden Fatah memperoleh gelar Senapati Jimbun Ngabdu’r-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata’Gama.
dillah = lampu).Ario Dillah mendapat hadiah dari Raja Majapahit terakhir Prabu Kertabumi Brawijaya V salah seorang isterinya keturunan Cina (kadang-kadang disebut juga Puteri Champa) yang telah memeluk Islam dan dibuatkan istana untuk Puteri. Pada saat putri ini diboyong ke Palembang ia sedang mengandung, kemudian lahir anaknya yang bernama Raden Fatah. Menurut cerita tutur yang ada di Palembang, Raden Fatah ini lahir di istana Ario Dillah di kawasan Palembang lama (1 ilir), tempat itu dahulu dinamakan Candi ing Laras, yaitu sekarang terletak di antara PUSRI I dan PUSRI II. Raden Fatah dipelihara dan dididik oleh Ario Dillah menurut agama Islam dan menjadi seorang ulama Islam. Sementara itu hasil perkawinan Ario Dillah dengan putri Cina tersebut, lahir Raden Kusen yaitu adik Raden Fatah lain bapak.Setelah kerajaan Majapahit bubar karena desakan kerajaan-kerajaan Islam, Sunan Ngampel, sebagai wakil Walisongo, mengangkat Raden Fatah menjadi penguasa Seluruh Jawa, menggantikan ayahnya. Pusat kerajaan Jawa dipindahkan ke Demak. Atas bantuan dari daerah-daerah lainnya yang sudah lepas dari Majapahit seperti Jepara, Tuban, Gresik, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam dengan Demak sebagai pusatnya (kira-kira tahun 1481). Raden Fatah memperoleh gelar Senapati Jimbun Ngabdu’r-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata’Gama.
Langganan:
Postingan (Atom)




